Garut.-//- Special Redaksi, Kaliber NewsPeringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama RI, yang dirayakan setiap tanggal 3 Januari, merupakan momen krusial untuk melakukan refleksi hati.
Saat di wawancara Gilang Nata Wiangga, Salah satu Pemerhati Lingkungan dan Kebijakan pemerintah , 03/01/26 dirinya mengucapkan Selamat HAB 2026 dan menuturkan “Ini bukan sekadar perayaan ulang tahun instansi, melainkan jeda sejenak untuk menengok ke dalam niat dan pengabdian seluruh insan Kemenag” Tuturnya”Berikut adalah poin-poin refleksi hati dalam bingkai Amal Bakti ” Lanjut Gilang
1. Re-aktivasi Niat: “Ikhlas Beramal”Slogan Ikhlas Beramal bukan hanya penghias logo. Refleksi hati menuntut kita bertanya:
* Apakah pelayanan yang diberikan selama ini murni untuk kemaslahatan umat?
* Ataukah masih terselip pamrih, mengharap pujian, atau sekadar menggugurkan kewajiban administratif?
* Esensinya: Menjadikan setiap pekerjaan sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Moderasi sebagai Napas PelayananSebagai penjaga gawang harmoni bangsa, hati insan Kemenag harus bersih dari sikap eksklusif dan intoleran.
* Keadilan: Memberikan pelayanan yang setara kepada seluruh pemeluk agama tanpa diskriminasi.
* Kedamaian: Menjadi penyejuk di tengah panasnya isu-isu yang memecah belah persatuan.
3. Transformasi Digital dan IntegritasRefleksi hari ini juga menyentuh aspek profesionalisme di era modern:
* Integritas: Menjaga tangan dan hati dari korupsi serta gratifikasi. Kejujuran adalah mahkota dari amal bakti.
* Adaptasi: Kesediaan untuk terus belajar dan mempermudah urusan masyarakat melalui inovasi teknologi, bukan justru mempersulitnya.
4. Meneladani Para PendiriMengingat kembali sejarah 3 Januari 1946, di mana Kemenag lahir di tengah perjuangan kemerdekaan ” Papar gilang kepada awak media”Refleksi ini mengajak kita untuk” Tegas nya menambah kan “Memiliki semangat pengorbanan (jihad) yang sama dengan para pendahulu,menyadari bahwa tugas Kemenag adalah menjaga fondasi moral dan spiritual bangsa Indonesia.
> “Agama tidak boleh dipisahkan dari negara, namun agama juga tidak boleh dijadikan alat politik yang memecah belah.””Makna Simbolis HAB ke-80 (2026)Di tahun 2026 ini, tantangan global semakin kompleks.
Refleksi hati harus bermuara pada komitmen untuk menjadi Penyimpul Kebangsaan.
Hati yang reflektif akan melahirkan tindakan yang solutif, santun, dan menenangkan bagi masyarakat luas” Tutup gilang sembari membuat kan kopi untuk awak media Dan tamu yang hadir di kediamannya(Redaksi)