Ciamis,-Kalibernewss.net.-//- 15 Februari 2026 ,Mentari pagi menyapa permukaan Situ Lengkong dengan lembut, memantulkan cahaya keemasan di atas air yang tenang.
Di ambang pintu Ramadhan 1447 H yang diperkirakan jatuh pada 18 atau 19 Februari mendatang, kawasan legendaris di Kabupaten Ciamis ini tak sekadar menjadi destinasi wisata, melainkan muara bagi jiwa-jiwa yang rindu akan ketenangan batin.
Ziarah di Jantung Nusa LarangDayung-dayung perahu mulai membelah kesunyian telaga, mengantarkan para peziarah menuju Pulau Nusa Larang. Di sana, di bawah rimbun pepohonan yang menyimpan rahasia zaman, terletak makam Prabu Hariang Kancana.
Bagi pengunjung, melangkah ke pulau ini adalah perjalanan melintasi waktu; menelusuri jejak sejarah Islam lokal di museum yang bersahaja, sembari melangitkan doa-doa yang khusyuk.
Sedekah di Tepian DermagaKehangatan Ramadhan sudah terasa bahkan sebelum hilal terlihat. Dalam semangat berbagi, pengelola memberikan kado istimewa bagi warga Kecamatan Panjalu:
tiket masuk dan sewa perahu diberikan secara cuma-cuma. Sebuah bentuk sedekah nyata bagi tanah kelahiran.Bagi para pelancong dari luar daerah, pintu gerbang tetap terbuka lebar dengan tarif yang santun di kantong.
Hanya dengan Rp25.000, mereka sudah bisa mencicipi kedamaian telaga, termasuk biaya menyeberang untuk menemukan hening di tengah pulau.
Aliran Manusia dan Asa KemandirianTatkala akhir pekan tiba, Situ Lengkong seolah bernapas lebih kencang. Lebih dari 1.000 pasang kaki datang silih berganti, memenuhi dermaga dengan antusiasme yang meluap.
Di sambangi awak media Koordinator wisata, Teteng Supriatna, mencatat bahwa setidaknya separuh dari mereka tidak sekadar singgah di tepi, melainkan memilih menyeberangi riak air untuk berziarah.
Namun, di balik hiruk-pikuk itu, ada mimpi besar yang tengah dirajut.Teteng berharap, setiap rupiah yang mengalir dan setiap wisatawan yang datang mampu menjadi pupuk bagi kemandirian Desa Panjalu.
> “Kami ingin potensi ini bukan sekadar angka retribusi, melainkan denyut nadi yang menyejahterakan warga dan mengangkat martabat Kabupaten Ciamis,” ungkapnya dengan penuh harap.
> Munggahan: Basuh Hati dengan KebersamaanTradisi munggahan menjadi puncak dari segala rasa.
Di bawah naungan langit Panjalu, keluarga-keluarga berkumpul, melingkari nasi liwet yang hangat, ditemani manisnya kue apem, pasung, dan gedang rojo. Tahlil dan doa bersama menjadi simfoni yang menggetarkan sukma.
Gilang Ferdian, seorang pengunjung setia, menatap kejauhan telaga dengan mata berbinar.”Setiap tahun saya kembali ke sini. Suasananya menenangkan, seolah air telaga ini membasuh debu-debu di hati, membuat saya lebih siap menyambut bulan suci,” tuturnya pelan.
Di Situ Lengkong, Ramadhan bukan sekadar penanggalan, melainkan sebuah kepulangan menuju fitrah” Jawab nya kepada awak media saat di tanya sudah berapa kali ber ziarah ke Panjalu, sembari ramah menawarkan kopi. (Santi Nurmayanti)