Indramayu,-Kalibernews.net.-//—Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjamin asupan sehat bagi anak-anak sekolah justru menuai kecaman dari para orang tua murid di Desa Ujungjaya, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu. Alih-alih bergizi, makanan yang dibagikan diduga tidak layak konsumsi dan kerap berakhir di tempat sampah.
Sejumlah orang tua murid mengungkapkan temuan menu MBG yang memprihatinkan, mulai dari buah naga dalam kondisi membusuk dan berulat, sayuran berbau basi, perkedel keras menyerupai batu, hingga roti tawar yang hanya dibungkus kertas tanpa standar kebersihan yang memadai.
Kondisi ini memicu kekhawatiran serius akan dampak kesehatan bagi anak-anak.Masalah tak berhenti di kualitas menu. Warga juga menyoroti buruknya manajemen distribusi.
Makanan MBG disebut sering datang terlambat, bahkan menjelang sore hari, yang otomatis menurunkan tingkat kesegaran dan meningkatkan risiko kontaminasi bakteri.
Orang tua murid pun mempertanyakan kinerja dan pengawasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk peran tenaga ahli gizi yang seharusnya memastikan kelayakan makanan sebelum dibagikan.
Mereka mendesak agar menu MBG dicicipi dan diuji terlebih dahulu, bukan langsung diserahkan kepada anak-anak.Program MBG di Desa Ujungjaya diketahui dikelola oleh Yayasan Nurwasita.
Kepala SPPG MBG setempat, Trisna Sugiarto, tetap bersikukuh bahwa seluruh proses telah dijalankan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).“Saya sudah menjalankan sesuai SOP,” ujar Trisna singkat saat dikonfirmasi di ruang kerjanya.
Di sisi lain, H. Sidik selaku pemilik Gedung MBG Desa Ujungjaya membantah keras adanya kasus keracunan akibat menu MBG.
Ia juga menyatakan keberatan atas beredarnya video di salah satu kanal YouTube yang menyebut dugaan keracunan, karena dinilai merugikan dan mencemarkan nama baik usahanya.
Namun bantahan tersebut belum sepenuhnya meredam keresahan warga. Sejumlah warga sekitar dapur MBG justru mendesak agar persoalan ini diusut tuntas.
Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya menilai ada kejanggalan antara besarnya anggaran dengan kualitas menu yang diterima anak-anak.“Anggarannya besar, tapi kalau dilihat dari menu dan porsinya, kalau dihitung-hitung paling cuma sekitar Rp8.000.
Ini harus dibuka secara transparan,” tegasnya.Warga juga menduga bahan makanan yang digunakan tidak dalam kondisi segar (fresh), sehingga berpotensi menjadi sarang bakteri dan membahayakan kesehatan anak-anak sekolah sebagai penerima manfaat program.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Desa Ujungjaya menuntut adanya pemeriksaan lapangan, evaluasi menyeluruh, serta audit transparan terhadap pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), agar tujuan program benar-benar tercapai dan tidak justru mengorbankan keselamatan anak-anak. *** Atim Sawano ***