* Penulis : Gilang Ferdian “”Atas Nama Redaksi, mengucapkan Selamat Hari Lahirnya Nahdatul Ulama 2026
Special Redaksi, Kalibernews.Sejarah Lahirnya Nahdlatul Ulama Nahdlatul Ulama (NU) didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya, Jawa Timur, dengan tokoh utama pendirinya KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri, serta nama organisasi diberikan oleh Kiai Mas Alwi Abdul Aziz Al Zamad Ghon.
Lahirnya NU merupakan rangkaian panjang dari perjuangan sebagai respons terhadap berbagai masalah keagamaan, peneguhan mazhab, serta keprihatinan kebangsaan dan sosial masyarakat.
Awalnya, sekitar pertengahan tahun 1924, KH Wahab Chasbullah telah menggagas pendirian organisasi ini dan menyampaikannya kepada KH Hasyim Asy’ari untuk meminta petunjuk, namun saat itu belum disetujui sebelum mendapatkan petunjuk melalui sholat istikharah.
Cikal bakal NU juga terkait dengan Komite Hijaz, yang dibentuk sebagai tanggapan atas kebijakan pemerintah Arab Saudi saat itu yang ingin membongkar makam Nabi Muhammad SAW dan memberlakukan mazhab Wahabi secara resmi, menolak mazhab lain.
Para ulama pesantren, terutama KH Wahab Chasbullah, berusaha menyampaikan kekhawatiran ini melalui forum Centraal Comite Chila Fat (CCC) tahun 1921, namun tidak mendapatkan hasil yang diinginkan.
Proses pendiriannya juga melibatkan serangkaian amanah spiritual, seperti pengiriman tasbih dan bacaan Asmaul Husna oleh santri As’ad dari KH Cholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy’ari pada akhir tahun 1925, setelah sebelumnya juga pernah diutus untuk memberikan tongkat dengan ayat Al-Qur’an Surat Thaha ayat 17-23 pada akhir tahun 1924.
Setelah menerima petunjuk tersebut, akhirnya NU resmi berdiri, bukan melalui perangkat formal semata, melainkan melalui proses lahir dan batin yang penuh dengan pertimbangan spiritual dan keprihatinan terhadap umat serta bangsa.
Perspektif Indonesia di Masa Depan dari Sudut Pandang NU – Islam Moderat sebagai Fondasi: NU selalu mengusung Islam yang berlandaskan prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat, yang diyakini menjadi kunci untuk menjaga persatuan bangsa dan menangkal radikalisme serta terorisme.
Melalui pendidikan di pesantren, lembaga pendidikan NU, dan organisasi sayap seperti GP Ansor serta Banser, NU berperan dalam membangun ideologi kebangsaan dan menjaga stabilitas nasional.- Peran dalam Pembangunan Nasional: NU berperan aktif dalam berbagai sektor pembangunan, termasuk pendidikan, kesehatan, dan sosial ekonomi.
Melalui lembaga seperti Laziz NU dan koperasi pesantren, NU berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang dianggap sebagai bagian penting dari pertahanan nasional berbasis human security.
– Menjadi Pusat Peradaban Baru Islam: NU berperan besar dalam memposisikan Indonesia sebagai pusat peradaban baru Islam, mengingat nilai-nilai moderasi dan toleransi yang diamalkan oleh umat Islam di Indonesia mampu meredam gejolak yang dipicu oleh persoalan ikhtilaf.
Model dakwah Wali Songo yang dikembangkan oleh NU juga mendapatkan apresiasi dari kalangan ilmuwan dan tokoh dunia Islam, serta didukung oleh aktivitas para aktivis NU di luar negeri melalui PCI-NU yang tersebar di penjuru dunia.- Penguatan Kader dan Inklusivitas: Dalam menghadapi tantangan masa depan yang lebih kompleks dan mondial,
NU terus berupaya memperluas basis kader yang lebih heterogen, dengan memasukkan unsur tokoh perempuan, tokoh pondok pesantren utama, dan unsur pemangku kewilayahan di Nusantara, serta menghilangkan sekat latar belakang politik agar dapat saling mengontrol dan bekerja sama untuk kemajuan bangsa. Penulis : Gilang Editor : Pemimpin Redaksi