GARUT, Kalibernews.net || – Dunia pendidikan di Garut sedang membicarakan satu nama Ai Supeni (42), Guru kelas 4 SDN 5 Tegalpanjang ini bukan sekadar pahlawan tanpa tanda jasa di depan papan tulis. Ia adalah potret nyata bagaimana “derajat” seorang honorer 18 tahun bisa diangkat setinggi langit lewat jalur langit, yakni bakti kepada ibu kandung.
Antara Vonis Sakit Ibu dan Dompet yang Mengering flashback ke tahun 2016. Saat itu, Ai masih terjebak dalam labirin nasib sebagai guru sukarelawan (sukwan). Gajinya? Jangan ditanya. Terkadang cair tiga bulan sekali dengan nominal yang hanya cukup untuk beli sabun dan beras beberapa liter, di tengah himpitan itu, badai datang.
Ibu Dasikah, sang ibunda, digerogoti penyakit lambung kronis. “Ibu muntah darah. Rasanya jantung saya berhenti melihat kondisi itu,” ungkap Ai dengan nada bicara yang lugas, tanpa aling-aling.
Datanglah tawaran dari Bunda Lita, sosok dari Bandung yang mengenalkan air alkali Milagros. Harga satu dusnya kala itu Rp350.000. Bagi Ai yang honorer, uang segitu adalah “nyawa”. Namun, ia nekat. Anehnya, ia pesan satu dus, yang datang malah tujuh dus. Sebuah “jual paksa” yang sempat membuatnya bingung tujuh keliling mencari cara bayar.
“Gantung Areuyeun” Ketegasan yang Membawa Berkah Siapa sangka, ‘air ajaib’ berkandungan pH 9+ dengan antioksidan tinggi itu menjadi perantara kesembuhan total sang ibu. Setelah menghabiskan lima dus, muntah darah itu berhenti. Tubuh sang ibu segar kembali.
Tersisa dua dus? Di sinilah insting tajam Ai Supeni, putri tokoh politik di tingkat kecamatan era Orde Baru berbicara. Saat temannya mengeluh suaminya sakit kaki bengkak menahun, Ai menawarinya dengan gaya “ngotot” yang elegan. “Ulah setengah dus, bilih gantung areuyeun (jangan setengah dus, nanti tanggung hasilnya),” tantangnya kala itu.
Ternyata, ketegasan itu membuahkan hasil. Suami temannya sembuh, dan nama Ai Supeni pun mulai harum sebagai “penolong” lewat media air Milagros.
Melampaui Gaji ASN, Dari Garut Menuju Dunia Kesabaran Ai, selama 17 tahun menjadi honorer akhirnya dibayar tunai oleh Tuhan. Tahun 2022 ia resmi diangkat menjadi ASN PPPK. Namun, ekonomi stabil yang ia nikmati sekarang bukan hanya dari gaji negara.
Milagros telah mengubah nasibnya secara bombastis. Kini, ia adalah bos dari 276 member di seluruh Indonesia. Penghasilannya? Di atas rata-rata ASN umumnya. Dari yang dulu sulit membayar Rp350 ribu, kini ia punya kantor pemasaran Air kesehatan Milagros sendiri di Perum Green Mutiara Residen, deretan mobil dan Motor , hingga sudah membawa ibunya terbang ke Thailand, China, dan bersimpuh di depan Baitullah tanah suci umat muslim.
Tetap Membumi, Tetap ‘Srikandi’
Meski asetnya sudah melimpah, Ai Supeni tetaplah Ai yang dulu. Ia tak gengsi naik ojek ke sekolah atau duduk berhimpitan di angkot. Baginya, status ASN adalah pengabdian, sedangkan Milagros adalah jalan untuk membantu sesama yang sakit, mulai dari penderita GERD, mereka yang pasca-operasi, hingga ibu melahirkan.
“Milagros itu bukan sekadar air. Ini tentang detoksifikasi, hidrasi, dan harapan hidup bagi orang banyak,” ujarnya berpromosi dengan penuh percaya diri.
Ai Supeni membuktikan bahwa keterbatasan finansial dan status ‘honorer abadi’ bisa dipatahkan. Syaratnya cuma satu: Jangan pernah ragu mengambil peluang, selama itu tidak melanggar aturan. Kini, ia bukan hanya guru bagi siswanya, tapi guru kehidupan bagi siapa pun yang ingin merubah nasib. (Red)