
BOGOR, KALIBERNEWS.NET — Pembangunan jalan desa bersistem hotmix di Kampung Serena, RT.09/RW.05, Desa Sirnasari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, yang menelan anggaran Rp.248.383.000 dari Bantuan Keuangan (Bankeu) Akselerasi 2026 Tahap I, kini memicu kecurigaan mendalam dan menjadi sorotan publik. Rabu 23 September 2026.
Pekerjaan yang dilaksanakan oleh PT. Satya Buana Mandiri dalam waktu hanya tujuh hari kalender ini dinilai jauh dari standar teknis yang seharusnya berlaku dan diduga kuat ada penyimpangan.
FAKTA LAPANGAN: VIDEO BUKTI ASPAL BISA DIKUPAS PAKAI TANGAN.
Peninjauan langsung di lapangan serta video yang diterima redaksi mengungkap fakta yang mengkhawatirkan dan memalukan. Lapisan aspal terlihat sangat tipis, mudah mengelupas, dan hanya menampakkan permukaan kerikil.
Dalam video viral, terlihat jelas seorang warga hanya dengan tangan kosong dan sebatang kayu kecil bisa mengangkat lembaran aspal yang rapuh tersebut. Lapisan hitam yang seharusnya tebal dan merekat kuat justru rontok begitu saja, menampakkan lapisan dasar putih yang tidak kokoh. Ketebalan yang tertulis di papan proyek 387 x 3 x 0.3 Meter, faktanya di lapangan diduga hanya beberapa mili meter.
Warga menyayangkan pelaksanaan yang terburu-buru dan kualitas yang tidak sebanding dengan nilai anggaran hampir seperempat miliar rupiah tersebut. Jalan yang seharusnya menunjang mobilitas dan kesejahteraan warga justru berpotensi menjadi beban baru karena akan hancur dalam hitungan bulan.
Jhon Harimau: Ini Bukan Membangun, Ini Membohongi Rakyat! Audit dan Periksa Kadesnya!
Menanggapi temuan memalukan ini, Jhon Harimau, Litbang DPP Jawa Barat Harapan Rakyat Indonesia Maju (HARIMAU) yang juga inisiator Petisi 26 Tolak Korupsi Kabupaten Bogor, memberikan tanggapan pedas dan keras kepada pengelola proyek dan pemerintah desa.
“Ini bukan hotmix, ini tabur debu hitam! Anggaran Rp.248 Juta dari Bankeu Akselerasi kok hasilnya kayak kerupuk rontok begini? Ini jelas-jelas membohongi rakyat Sirnasari dan merampok uang negara!”
“Saya Jhon Harimau minta dengan tegas: Periksa Kepala Desa Sirnasari, Periksa PT. Satya Buana Mandiri, dan Audit total proyek ini! Jangan cuma jadi penonton. Inspektorat Kabupaten Bogor, DPMD, Kejari Kabupaten Bogor harus turun. Kalau volume 0,3 meter tapi isinya cuma 1 cm, itu korupsi namanya!”
“Pembangunan bukan sekadar menabur aspal, melainkan meletakkan kepercayaan yang kokoh. Jika fondasi dan kualitas diabaikan, maka yang dibangun hanyalah kemasan, bukan karya. Untuk apa bangun jalan kalau seminggu sudah rontok? Ini yang kami lawan di Petisi 26!” tegas Jhon Harimau.
Jhon Harimau menambahkan, video bukti aspal rontok ini akan ia jadikan barang bukti tambahan untuk laporan resmi ke Kejati Jawa Barat, Kasubdit Tipikor Polda Jawa Barat dan BPK RI Jawa Barat.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Desa Sirnasari dan pihak PT. Satya Buana Mandiri belum memberikan penjelasan resmi terkait dugaan penyimpangan kualitas hotmix tersebut.
Editor: Zul
Redaksi
Kalibernews.net
